BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Farmakologi merupakan ilmu yang sangat
luas cakupannya. Namun untuk seorang dokter ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu
agar dapat menggunakan obat untuk maksud pencegahan, diagnosis, dan pengobatan
penyakit. Selain agar mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan
berbagai gejala penyakit.
Antibiotika ialah zat yang
dihasilkan oleh mikroba terutama fungi, yang dapat menghambat pertumbuhan atau
membasmi mikroba jenis lain. Antibiotik juga dapat dibuat secara sintesis.
Antimikroba diartikan sebagai obat pembasmi mikroba khususnya yang merugikan
manusia.
Sejarah antibiotik dimulai ketika
ditemukannya obat antibiotik pertama olehAlexander Flemming yaituPenici llin-G.
Flemming berhasil mengisolasi senyawa tersebut dari Penicillium
chrysogenum syn. P. notatum. Dengan penemuan antibiotik
ini membuka sejarah baru dalam bidang kesehatan karena dapat meningkatkan angka
kesembuhan yang sangat bermakna. Kemudian terjadilah penggunaan besar-besaran
antibiotik pada saat perang dunia untuk pengobatan berbagai macam penyakit.
Masalah baru muncul ketika mulai dilaporkannya resistensi beberapa mikroba
terhadap antibiotik karena penggunaan antibiotikyang besar-besaran. Hal ini
tidak seharusnya terjadi jika kita sebagai pelakukesehatan mengetahui
penggunaan antibiotik yang tepat.
B.
Masalah
- Apa yang dimaksud dengan Antibiotik?
- Apa saja macam antibiotik?
- Bagaimana mekanisme kerja dari obat antibiotik?
4.
Apa saja golongan Obat Antibiotika?
C.
Tujuan
Adapun tujuan kami membuat makalh ini adalah :
- Untuk mengetahui dan memahami apa itu antibiotik.
- Untuk mengetahui tentang macam antibiotik.
- Untuk mengetahui mekanisme kerja antibiotik.
4.
Untuk mengetahui golongan Obat Antibiotika.
D. Manfaat
1. Agar dapat
mengetahui dan memahami apa itu antibiotik.
2. Agar dapat
mengetahui tentang macam antibiotik.
3. Agar dapat
mengetahui mekanisme kerja antibiotik.
4. Agar dapat
mengetahui golongan Obat Antibiotika.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kata
antibiotik berasal dari bahasa yunani yaitu-anti (melawan) dan-biotikos
(cocok untuk kehidupan). Istilah ini diciptakan oleh Selman tahun 1942
untuk menggambarkan semua senyawa yang diproduksi oleh mikroorganisme yang
dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain. Namun istilah ini kemudian
digeser dengan ditemukannya obat antibiotik sintetis. Penggunaan istilah
antimikroba cenderung mengarah ke semua jenis mikroba dan termasuk didalamnya
adalah antibiotik, anti jamur, anti parasit, anti protozoa, anti virus, dll.
Mikroorganisme
yang dihambat oleh antibiotik khusunya adalah bakteri. Maka dari itu antibiotik
bersinosim dengan anti-bakteri. Antibiotik berbeda dengan istilah disinfectant karena
desifektant membunuh kuman dengan cara membuat lingkungan yang tidak wajar bagi
kuman. Sedangkan kerja dari antibiotik adalah cenderung bersifat Toksisitas
Selektif dalam arti dapat membunuh kuman tanpa merugikan inang.
Antibiotika
ialah zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi, yang dapat menghambat pertumbuhan
atau membasmi jenis mikroba lain. Dengan demikian, antibiotika adalah zat-zat
kimia yang dihasilkan mikro organisme hidup terutama fungi dan bakteri ranah
yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuahn banyak bakteri dan
beberapa virus besar, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relative kecil.
B.
Macam Antibiotik
Berdasarkan sifatnya (daya hancurnya) antibiotik
dibagi menjadi dua:
1.
Antibiotik yang bersifat bakterisida, yaitu antibiotik
yang bersifat destruktif terhadap bakteri.
2.
Antibiotik yang bersifat bakteriostatik, yaitu
antibiotik yang bekerja menghambat pertumbuhan atau multiplikasi bakteri.
Cara yang ditempuh oleh antibiotik
dalam menekan bakteri dapat bermacam-macam, namun dengan tujuan yang sama yaitu
untuk menghambat perkembangan bakteri. Oleh karena itu mekanisme kerja
antibiotik dalam menghambat proses biokimia di dalam organisme dapat dijadikan
dasar untuk mengklasifikasikan antibiotik sebagai berikut:
a) Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel
bakteri. Ada antibiotik yang merusak dinding sel mikroba dengan menghambat
sintesis enzim atau inaktivasi enzim, sehingga menyebabkan hilangnya viabilitas
dan sering menyebabkan sel lisis. Antibiotik ini menghambat sintesis dinding
sel terutama dengan mengganggu sintesis peptidoglikan. Dinding sel bakteri yang
menentukan bentuk karakteristik dan berfungsi melindungi bagian dalam sel
terhadap perubahan tekanan osmotik dan kondisi lingkungan lainnya. Yang
termasuk ke dalam golongan ini adalah Beta-laktam, Penicillin, Polypeptida,
Cephalosporin, Ampicillin, Oxasilin.
·
Beta-laktam menghambat
pertumbuhan bakteri dengan cara berikatan pada enzim DD-transpeptidase yang
memperantarai dinding peptidoglikan bakteri, sehingga dengan demikian akan
melemahkan dinding sel bakteri Hal ini mengakibatkan sitolisis karena
ketidakseimbangan tekanan osmotis, serta pengaktifan hidrolase dan autolysins
yang mencerna dinding peptidoglikan yang sudah terbentuk sebelumnya. Namun
Beta-laktam (dan Penicillin) hanya efektif terhadap bakteri gram positif, sebab
keberadaan membran terluar (outer membran) yang terdapat pada bakteri gram
negatif membuatnya tak mampu menembus dinding peptidoglikan.
·
Penicillin meliputi
natural Penicillin, Penicillin G dan Penicillin V, merupakan antibiotik
bakterisidal yang menghambat sintesis dinding sel dan digunakan untuk
penyakit-penyakit seperti sifilis, listeria, atau alergi bakteri gram
positif/Staphilococcus/Streptococcus. Namun karena Penicillin merupakan jenis
antibiotik pertama sehingga paling lama digunakan telah membawa dampak
resistansi bakteri terhadap antibiotik ini. Namun demikian Penicillin tetap
digunakan selain karena harganya yang murah juga produksinya yang mudah.
·
Polypeptida meliputi
Bacitracin, Polymixin B dan Vancomycin. Ketiganya bersifat bakterisidal. Bacitracin
dan Vancomycin sama-sama menghambat sintesis dinding sel. Bacitracin digunakan
untuk bakteri gram positif, sedangkan Vancomycin digunakan untuk bakteri
Staphilococcus dan Streptococcus. Adapun Polymixin B digunakan untuk bakteri
gram negatif.
·
Cephalosporin (masih
segolongan dengan Beta-laktam) memiliki mekanisme kerja yang hampir sama yaitu
dengan menghambat sintesis peptidoglikan dinding sel bakteri. Normalnya
sintesis dinding sel ini diperantarai oleh PBP (Penicillin Binding Protein)
yang akan berikatan dengan D-alanin-D-alanin, terutama untuk membentuk jembatan
peptidoglikan. Namun keberadaan antibiotik akan membuat PBP berikatan dengannya
sehingga sintesis dinding peptidoglikan menjadi terhambat.
·
Ampicillin memiliki
mekanisme yang sama dalam penghancuran dinding peptidoglikan, hanya saja
Ampicillin mampu berpenetrasi kepada bakteri gram positif dan gram negatif. Hal
ini disebabkan keberadaan gugus amino pada Ampicillin, sehingga membuatnya
mampu menembus membran terluar (outer membran) pada bakteri gram negatif.
·
Penicillin
jenis lain, seperti Methicillin dan Oxacillin, merupakan antibiotik bakterisidal yang
digunakan untuk menghambat sintesis dinding sel bakteri. Penggunaan Methicillin
dan Oxacillin biasanya untuk bakteri gram positif yang telah membentuk
kekebalan (resistansi) terhadap antibiotik dari golongan Beta-laktam.
·
Antibiotik
jenis inhibitor sintesis dinding sel lain memiliki spektrum sasaran yang
lebih luas, yaitu Carbapenems, Imipenem, Meropenem. Ketiganya bersifat
bakterisidal.
b)
Antibiotik
yang menghambat transkripsi dan replikasi. Yang termasuk ke dalam golongan
ini adalah Quinolone, Rifampicin, Actinomycin D, Nalidixic acid, Lincosamides,
Metronidazole.
·
Quinolone merupakan
antibiotik bakterisidal yang menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara masuk
melalui porins dan menyerang DNA girase dan topoisomerase sehingga dengan
demikian akan menghambat replikasi dan transkripsi DNA. Quinolone lazim
digunakan untuk infeksi traktus urinarius.
·
Rifampicin
(Rifampin) merupakan antibiotik bakterisidal yang bekerja dengan cara berikatan
dengan β-subunit dari RNA polymerase sehingga menghambat transkripsi RNA dan
pada akhirnya sintesis protein. Rifampicin umumnya menyerang bakteri spesies
Mycobacterum.
·
Nalidixic
acid merupakan
antibiotik bakterisidal yang memiliki mekanisme kerja yang sama dengan
Quinolone, namun Nalidixic acid banyak digunakan untuk penyakit demam tipus.
·
Lincosamides merupakan
antibiotik yang berikatan pada subunit 50S
dan banyak digunakan untuk bakteri gram positif, anaeroba
Pseudomemranous colitis. Contoh dari golongan Lincosamides adalah Clindamycin.
·
Metronidazole merupakan
antibiotik bakterisidal diaktifkan oleh anaeroba dan berefek menghambat
sintesis DNA.
c) Antibiotik yang menghambat sintesis protein. Yang
termasuk ke dalam golongan ini adalah Macrolide, Aminoglycoside, Tetracycline,
Chloramphenicol, Kanamycin, Oxytetracycline.
·
Macrolide, meliputi
Erythromycin dan Azithromycin, menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara
berikatan pada subunit 50S ribosom, sehingga dengan demikian akan menghambat
translokasi peptidil tRNA yang diperlukan untuk sintesis protein. Peristiwa ini
bersifat bakteriostatis, namun dalam konsentrasi tinggi hal ini dapat bersifat
bakteriosidal. Macrolide biasanya menumpuk pada leukosit dan akan dihantarkan
ke tempat terjadinya infeksi. Macrolide biasanya digunakan untuk Diphteria,
Legionella mycoplasma, dan Haemophilus.
·
Aminoglycoside meliputi
Streptomycin, Neomycin, dan Gentamycin, merupakan antibiotik bakterisidal yang
berikatan dengan subunit 30S/50S sehingga menghambat sintesis protein. Namun
antibiotik jenis ini hanya berpengaruh terhadap bakteri gram negatif.
·
Tetracycline merupakan
antibiotik bakteriostatis yang berikatan dengan subunit ribosomal 16S-30S dan
mencegah pengikatan aminoasil-tRNA dari situs A pada ribosom, sehingga dengan
demikian akan menghambat translasi protein. Namun antibiotik jenis ini memiliki
efek samping yaitu menyebabkan gigi menjadi berwarna dan dampaknya terhadap
ginjal dan hati.
·
Chloramphenicol merupakan
antibiotik bakteriostatis yang menghambat sintesis protein dan biasanya
digunakan pada penyakit akibat kuman Salmonella.
d) Antibiotik yang menghambat fungsi membran sel. Dibawah
dinding sel bakteri adalah lapisan membran sel lipoprotein yang dapat disamakan
dengan membran sel pada manusia. Membran ini mempunyai sifat permeabilitas
selejtif dan berfungsi mengontrol keluar masuknya subtaansi dari dan kedalam
sel, serta memelihara tekanan osmotik internal dan ekskresi waste products. Selain itu membran sel
juga berkaitan dengan replikasi DNA dan sintesis dinding sel. Oleh karena itu
substansi yang mengganggu fungsinya akan sangat lethal terhadap sel. Contohnya
antara lain Ionimycin dan Valinomycin. Ionomycin bekerja dengan meningkatkan
kadar kalsium intrasel sehingga mengganggu kesetimbangan osmosis dan
menyebabkan kebocoran sel.
e) Antibiotik yang menghambat bersifat antimetabolit. Yang
termasuk ke dalam golongan ini adalah Sulfa atau Sulfonamide, Trimetophrim,
Azaserine.
·
Pada
bakteri, Sulfonamide bekerja dengan bertindak sebagai inhibitor kompetitif
terhadap enzim dihidropteroate sintetase (DHPS). Dengan dihambatnya enzim DHPS
ini menyebabkan tidak terbentuknya asam tetrahidrofolat bagi bakteri.
Tetrahidrofolat merupakan bentuk aktif asam folat[17], di mana fungsinya adalah
untuk berbagai peran biologis di antaranya dalam produksi dan pemeliharaan sel
serta sintesis DNA dan protein. Biasanya Sulfonamide digunakan untuk penyakit
Neiserria meningitis.
·
Trimetophrim juga
menghambat pembentukan DNA dan protein melalui penghambatan metabolisme, hanya
mekanismenya berbeda dari Sulfonamide. Trimetophrim akan menghambat enzim
dihidrofolate reduktase yang seyogyanya dibutuhkan untuk mengubah dihidrofolat
(DHF) menjadi tetrahidrofolat (THF).
·
Azaserine
(O-diazo-asetyl-I-serine) merupakan antibiotik yang dikenal sebagai
purin-antagonis dan analog-glutamin. Azaserin mengganggu jalannya metabolisme
bakteri dengan cara berikatan dengan situs yang berhubungan sintesis glutamin,
sehingga mengganggu pembentukan glutamin yang merupakan salah satu asam amino
dalam protein.
C.
Mekanisme Kerja
Beberapa antibiotika bekerja
terhadap dinding sel (penisilin dan sefalosforin) atau membran sel (kleompok
polimiksin), tetapi mekanisma kerja yang terpenting adalah perintangan selektif
metabolisme protein bakteri sehingga sintesis protein bakteri dapat terhambat
dan kuman musnah atau tidak berkembang lagi misalnya kloramfenikol dan
tetrasiklin.
Diluar bidang terapi, antibiotik
digunakan dibidang peternakan sebagai zat gizi tambahan guna mempercepat
pertumbuhan ternak, dan unggas yang diberi penisilin, tetrasiklin erithomisin
atau basitrasin dalam jumlah kecil sekali dalam sehari harinya, bertumbuh lebih
besar dengan jumlah makanan lebih sedikit.
D. Golongan Obat Antibiotika
1.
Penisilin
Penisilin diperoleh dari jamur
Penicilium chrysogeneum dari bermacam-macam jemis yang dihasilkan (hanya
berbeda mengenai gugusan samping R ) benzilpenisilin ternyata paling aktif.
Sefalosforin diperoleh dari jamur cephalorium acremonium, berasl dari sicilia
(1943) penisilin bersifat bakterisid dan bekerja dengan cara menghambat sintesi
dinding sel.
Pensilin terdiri dari :
·
Benzil Penisilin
Indikasi : infeksi saluran kemih, otitis
media, sinusitis, bronchitis kronis,
salmonelosis invasive, gonore.
Kontraindikasi : hipersensitivitas ( alergi ) terhadap
penisilin.
Efek samping : reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi,
angioudem, leukopoia, trombositopenia, diare pada pemberian per oral.
·
Fenoksimetilpenisilin
Indikasi :Tonsillitis,
otitis media, erysipelas, demam rematik, propopiliaksis infeksi pneumokokus.
·
Kloksasilin
Indikasi :
infek si karena stapilokokus yang
memproduksi pensilinase.
Peringatan :
riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever,
leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi :
obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan tubuh. Tapi penetrasi ke dalam cairan otak
kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.
Kontraindikasi :
hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin.
Efek samping :
reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem, leukopoia,
trombositopenia, diare pada pemberian per oral.
·
Flukoksasilin
Indikasi :
infeksi karena stapilokokus yang memproduksi pensilinase.
Peringatan :
riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever,
leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi :
obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan tubuh. Tapi penetrasi
ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.
Kontraindikasi :
hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin.
Efek samping :
reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem, leukopoia,
trombositopenia, diare pada pemberian per oral.
·
Ampisilin
Indikasi :
infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronchitis kronis, salmonelosis
invasive, gonore.
Peringatan :
riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever,
leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi :
obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan tubuh. Tapi penetrasi
ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.
Kontraindikasi :
hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin.
Efek samping :
reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem, leukopoia,
trombositopenia, diare pada pemberian per oral.
·
Amoksisilin
Indikasi :
infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronchitis kronis, salmonelosis
invasive, gonore.
Peringatan :
riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever,
leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi :
obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan tubuh. Tapi penetrasi
ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.
Kontraindikasi :
hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin.
Efek samping :
reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem, leukopoia,
trombositopenia, diare pada pemberian per oral.
·
Tikarsilin
Indikasi :
infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas dan proteus.
·
Piperasilin
Indikasi :
infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas aerugenosa.
·
Sulbenisilin
Indikasi :
infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas aerugenosa.
2.
Sefalosforin
Sefalosforin merupakan antibiotic
betalaktam yang bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding mikroba.
Farmakologi sefalosforin mirip dengan penisilin, ekseresi terutama melalui
ginjal dan dapat di hambat probenisid.
Sefalosforin terbagi atas :
Indikasi :
infeksi baktri gram (+) dan (-)
Interaksi :
sefalosforin aktif terhadap kuman garm (+) dan (-) tetapi spectrum anti mikroba
masing-masng derrivat bervariasi.
efek samping : diare dan colitis yang disebabkan oleh antibiotic ( penggunaan dosis tinggi) mual dan mumtah rasa tidak enak pada saluran cerna sakit kepala, Dll
efek samping : diare dan colitis yang disebabkan oleh antibiotic ( penggunaan dosis tinggi) mual dan mumtah rasa tidak enak pada saluran cerna sakit kepala, Dll
Kontra indikasi :
hipersensitivitas terahadap sefalosforin, porfiria
Indikasi : ISPA, eksaserbasi akut dari bronchitis kronik dan otitis media.
Indikasi :
profilaksis pada pembedahan, epiglotitis karena hemofilus, meningitis.
Indikasi :
profilaksis tindakan bedah,lebih aktif terhadap H. influenzae dan N
gonorrhoeae.
Indikasi :
profilaksis pada Tindakan 1 pembedahan.
Indikasi : infeksi saluran napas tetapi. Penggunaan ada faringitis dan tonsillitis, hanya yang kambuhan, infeksi kronis atau resisten terhadap antbiotika lain.
3.
Tetrasiklin
Tetrasiklin merupakan antibiotik
dengan spectrum luas. Penggunaannya semakin lama semakin berkurang karena
masalah resistansi.
Tetrasiklin terbagi atas :
Indikasi : eksaserbasi bronkitri kronis, bruselosis (lihat juga keterangan diatas) klamidia, mikoplasma, dan riketsia, efusi pleura karena keganasan atau sirosis, akne vulganis.
Peringatan :
gangguan fungsi hati (hindari pemberian secara i.v), gangguan fungsi ginjal
(lihat Lampiran 3), kadang-kadang menimbulkan fotosintesis.
Efek samping : mual, muntah, diare, eritema.
Efek samping : mual, muntah, diare, eritema.
Indikasi :
tetrasiklin. Lihat jugas gangguan sekresi hormone antidiuretik
Perhatinak : kontaindikasi; efek samping lihat tetrasiklin. Fotositivtas lebih sering terjadi pernah dilaporkan terjadinya diabeters indipidus nefrogenik.
Perhatinak : kontaindikasi; efek samping lihat tetrasiklin. Fotositivtas lebih sering terjadi pernah dilaporkan terjadinya diabeters indipidus nefrogenik.
Indikasi :
tetrasiklin.bruselosis (kombniasi dengan tetrasiklin), sinusitis kronis ,
pretatitis kronis, penyakit radang perlvis (bersama metronidazo)
Indikasi : peringatan; kontaindikasi; efek samping; lihat tetrasilin; hindari pada porfiria.
Dosis :
250-500 mg tiap 6 jam
Oxytetracycline ( generic ) cairan Inj. 50 mg/ vial
(K)
Teramycin (Pfizer Indonesia) cairan inj. 50 mg/ vial.
Kapsul 250 mg (K).
4.
Aminoglikosida
Aminoglokosida bersifat bakterisidal
dan aktif terhadap bakteri gram posistif dan gram negative. Aminasin,
gentamisin dan tobramisin d juga aktif terhadap pseudomonas aeruginosa.
Streptomisin aktif teradap mycobacterium tuberculosis dan penggunaannya sekarang
hamper terbatas untuk tuberkalosa.
Indikasi :
infeksi generatif yang resisten terhadap gentamisin.
Indikasi :
septicemia dan sepsis pada neonatus, meningitis dan infeksi SSP lainnya.
Infeksi bilier, pielonefritis dan prostates akut, endokarditis karena Str
viridans. Atau str farcalis (bersama penisilin, pneumonia nosokomial, terapi
tambahan pad meningitis karena listeria.
Peringatan : gangguan funsi ginjal, bayi dan usia lanjut ( (sesuaikan dosso, awasi fungsi ginjal, pendengaran dan vestibuler dan periksa kadar plasma), hindari penggunaan jangka panjang.
Peringatan : gangguan funsi ginjal, bayi dan usia lanjut ( (sesuaikan dosso, awasi fungsi ginjal, pendengaran dan vestibuler dan periksa kadar plasma), hindari penggunaan jangka panjang.
Kontraindikasi :
kehamilan, miastenia gravis.
Efek samping :
gangguna vestibuler dan pendengaran, netrotoksista, hipomagnesemia pada
pemberian jangka panjang colitis karena antibiotic.
Dosis : injeksi intramuskuler, intravena lambat atau infuse, 2-5 mg/ kg/ hari ( dalam dosis terbagai tiap 8 jam) lihat juga keterangan diatas sesuaikan dosis terbagi tiap 8 jam ) lihat juga keterangan fungsi ginjal dan ukur kadar dalam plasma.
Dosis : injeksi intramuskuler, intravena lambat atau infuse, 2-5 mg/ kg/ hari ( dalam dosis terbagai tiap 8 jam) lihat juga keterangan diatas sesuaikan dosis terbagi tiap 8 jam ) lihat juga keterangan fungsi ginjal dan ukur kadar dalam plasma.
Indikasi :
Sterilisasi usus sebelum operasi
Indikasi :
infeksi berat kuman gram negative yang resisten terhadap gentainisin.
5.
Kloramfenikol
Kloramfenikol merupakan antibiotic
dengan spectrum luas, namun bersifat toksik. Obat ini seyogyanya dicadangkan
untuk infeksi berat akibat haemophilus influenzae, deman tifoid, meningitis dan
abses otak, bakteremia dan infeksi berat lainnya. Karena toksisitasnya, obat
ini tidak cocok untuk penggunaan sistemik.
Kontraindikasi :
wanita hamil, penyusui dan pasien porfiria
Efeks samping : kelainan darah yang reversible dan irevesibel seperti anemia anemia aplastik ( dapat berlanjut mejadi leukemia), neuritis perifer, neuritis optic, eritem multiforme, mual, muntah, diare, stomatitis, glositits, hemoglobinuria nocturnal.
Efeks samping : kelainan darah yang reversible dan irevesibel seperti anemia anemia aplastik ( dapat berlanjut mejadi leukemia), neuritis perifer, neuritis optic, eritem multiforme, mual, muntah, diare, stomatitis, glositits, hemoglobinuria nocturnal.
6.
Makrolid
Eritromisin memiliki spectrum
antibakteri yang hamper sama dengan penisilin, sehingga obat ini digunakan
sebagai alternative penisilin. Indikasi eritremisin mencakup indikasi saluran
napas, pertusis, penyakit gionnaire dan enteritis karena kampilo bakteri.
Indikasi :
sebagai alternative untuk pasien yang alergi penisilin untuk pengobatan
enteritis kampilobakter, pneumonia, penyakit legionaire, sifilis, uretritis non
gonokokus, protatitis kronik, akne vulgaris, dan rpofilaksis difetri dan
pertusis.
Indikasi : infeksi saluran napas, otitis media, infeksi klamida daerah genital tanpa kompliasi.
Indikasi :
infeksi saluran napas, infeksi ringan dan sedang pada kulit dan jaringan lunak;
terapi tambahan untuk eradikasi helicobacter pylori pada tukak duodenum.
7.
Polipeptida
Kelompok ini terdiri dari polimiksin
B, polimiksin E (= kolistin), basi-trasin dan gramisidin, dan berciri struktur
polipeptida siklis dengan gugusan-gugusan amino bebas. Berlainan dengan
antibiotika lainnya yang semuanya diperoleh dari jamur, antibiotika ini
dihasilkan oleh beberapa bakteri tanah. Polimiksin hanya aktif terhadap basil
Gram-negatif termasuk Pseudomonas, basitrasin dan gramisidin terhadap kuman
Gram-positif.
Khasiatnya berupa bakterisid
berdasarkan aktivitas permukaannya (surface-active agent) dan kemampuannya
untuk melekatkan diri pada membran sel bakteri, sehingga permeabilitas sel
diperbesar dan akhirnya sel meletus. Kerjanya tidak tergantung pada keadaan membelah
tidaknya bakteri, maka dapat dikombinasi dengan antibiotika bakteriostatik
seperti kloramfenikol dan tetrasiklin.
Resorpsinya dari usus praktis nihil, maka hanya digunakan secara parenteral, atau oral untuk bekerja di dalam usus. Distribusi obat setelah" injeksi tidak merata, ekskresinya lewat ginjal.
Resorpsinya dari usus praktis nihil, maka hanya digunakan secara parenteral, atau oral untuk bekerja di dalam usus. Distribusi obat setelah" injeksi tidak merata, ekskresinya lewat ginjal.
Antibiotika ini sangat toksis bagi
ginjal, polimiksin juga untuk organ pendengar. Maka penggunaannya pada infeksi
dengan Pseu¬domonas kini sangat berkurang dengan munculnya antibiotika yang
lebih aman (gentamisin dan karbenisilin).
8.
Golongan Antimikobakterium
Golongan antibiotika dan
kemoterapetka ini aktif te rhadap kuman mikobakterium. Termasuk di sini adalah
obat-obat anti TBC dan lepra, misalnya rifampisin, streptomisin, INH, dapson,
etambutol dan lain-lain.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar