DOKUMENTASI KEBIDANAN
PERDARAHAN POST PARTUM PRIMER
A.
Definisi
Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih dari
500-600 ml dalam masa 24 jam setelah anak lahir. (Prof. dr. Ida Bagus Gde
Manuaba : 1996)
Menurut waktu terjadinya dibagi atas dua bagian :
- Perdarahan post partum primer ( early post partum hemorrhage) yang terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir. Penyebab utama post partum primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, dan robekan jalan lahir. Terbanyak dalam 2 jam pertama. (Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba : 1996).
- Perdarahan post partum skunder (late post partum hemorrhage) yang terjadi setelah 24 jam, biasanya antara hari ke 5 sampai 15 post partum. Penyebab utama perdarahan post partum sekunder adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membran. (Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba : 1996).
B.
Etiologi
(Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH : 1998)
- Atonia Uteri
Faktor penyebab terjadinya atonia uteri adalah
a.
Umur
: Umur yang terlalu
muda atau tua
b. Paritas
: Sering dijumpai
para multipara dan grandemultipara
c.
Partus lama
dan partus terlantar
d. Obstein
operatif dan narkosa
e.
Uterus
terlalu tegang dan besar, misalnya pada gemeli, hidramnion, atau janin besar
f.
Kelainan
pada uterus, seperti mioma uteri, uterus cauvelair pada solusio plasenta.
g. Faktor sosio
ekonomi, yaitu mamumsi
- Sisa plasenta dan selaput ketuban
- Jalan lahir : robekan perineum, vagina serviks, famiks dan rahim.
- Penyakit darah
Kelainan pembekuan darah misalnya a atau
hipofibrinogenemia yang sering dijumpai pada :
- Perdarahan yang banyak
- Solusio plasenta
- Kematian janin yang lama dalam kandungan
- Pre-eklamsi dan eklamsi
- Infeksi, hepatitis dan septik syok
C.
Diagnosis
(Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH : 1998)
Pada tiap-tiap perdarahan post partum harus dicari apa
penyebabnya secara ringkas membuat diagnosis adalah seperti bagan dihalaman
berikut.
![]() |
Pada ibu yang bersalin penting sekali dilakukan
pengukuran kadar darah secara rutin : serta pengawasan tekanan darah, nadi,
pernafasan ibu dan periksa juga kontraksi uterus dan perdarahan selama 1 jam.
D.
Gambaran
Klinis (Human labor and birth : 1996)
Gambaran klinisnya berupa perdarahan terus-menerus dan
keadaan pasien secara berangsur-angsur menjadi semakin jelek. Denyut nadi
menjadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun, pasien berubah pucar dan
dingin, dan napasnya menjadi sesak, terengah-engah, berkeringat dan akhirnya
coma serta meninggal dunia. Situasi yang berbahaya adalah kalau denyut nadi dan
tekanan darah hanya memperlihatkan sedikit perubahan untuk beberapa saat karena
adanya mekanisme kompensasi vaskuler. Kemudian fungsi kompensasi ini tidak bisa
dipertahankan lagi, denyut nadi meningkat dengan cepat, tekanan darah tiba-tiba
turun, dan pasien dalam keadaan shock. Uterus dapat terisi darah dalam jumlah
yang cukup banyak sekalipun dari luar hanya terlihat sedikit. Bahaya perdarahan
post partum ada dua, pertama : anemia yang berakibat perdarahan tersebut
memperlemah keadaan pasien, menurunkan daya tahannya dan menjadi faktor
predisposisi terjadinya infekol nifas. Kedua : Jika kehilangan darah ini tidak
dihentikan, akibat akhir tentu saja kematian.
E.
Penanganan
(Sarwono Prawirohardjo : 2005)
Atonia Uteri
1. Kenali dan
tegakkan diagnosis kerja atonia uteri
2. Sementara
dilakukan pemasangan infus dan pemberian uterotonika, lakukan kompresi bimanual
3. Pastikan
plasentaa lahir lengkap (bila ada indikasi sebagian plasenta masih tertinggal,
lakukan evakuasi sisa plasenta) dan tak ada laserasi janin lahir
4. Berikan
tranfusi darah bila sangat diperlukan
5. Lakukan uji
beku darah (lihat solusio plasenta) untuk konfirmasi sistem pembekuan darah.
6. Bila semua
tindakan diatas telah dilakukan tetetapi masih terjadi perdarahan lakukan tindakan
spesifik (lihat bagian prosedur klinik) sbb :
1. Pada fasilitas
pelayanan kesehatan dasar
a. Kompresi bimanual eksternal
Menekan uterus melalui dinding abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua
belah telapak tangan yang melingkupi uterus. Pantau aliraan darah yang keluar,
bila perdarahan berkurang, kompresi diteruskan, pertahankan hingga uterus dapat
kembali berkontraksi atau dibawa ke fasilitas kesehatan rujukan. Bila belum
berhasil, coba dengan kompresi bimanual internal.
b. Kompresi bimanual internal
Uterus ditekan di antara telapak tangan pada dinding
abdomen dan tinju tangan dalam vagina untuk menjepit pembuluh darah didalam
miometrium (sebagai pengganti mekanisme kontraksi). Perhatikan perdarahan yang
terjadi. Pertahankan kondisi ini bila perdarahan berkurang atau berhenti,
tunggu hingga uterus berkontraksi kembali. Apabila perdarahan tetap terjadi,
cobakan kompresi aorta abdominalis.
c. Kompresi aortaa abdominalis
Raba arteri femoralis
dengan ujung jari tangan kiri, pertahankan posisi tersebut, genggam tangan
kanan kemudian tekankan pada daerah umbilikus, tegak lurus dengan sumbu badan,
hingga mencapai kolumna vertebralis, penekanan yang tepat, akan menghentikan
atau sangat mengurangi denyut arteri pemoralis. Lihat hasil kompresi dengan
memperhatikan perdarahan yang terjadi.
2. Pada rumah sadar
rujukan
a. Ligasi arteri uterna dan ovarika
b. Histereldomi
Retensio Plasenta ( sarwono prawirohardjo:2005 )
- Tentukan jenis retensio yang terjadi karena berkaitan dengan tindakan yang akan diambil
- Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk mengedan. Bila ekspulsi plasenta tidak terjadi, cobakan traksi terkontrol tali pusat.
- Pasang infus oksitosin 20 unit dalam 500 cc NS/RL dengan 40 tetesan per menit. Bila perlu kombinasikan dengan misoprostal 400 mg rektal (sebaiknya tidak menggunakan ergometrin karena kontraksi tonik yang timbul dapat menyebabkan plasenta terperangkap dalam kovum uteri).
- Bila traksi terkontrol gagal untuk melahirkan plasenta, lakukan manual plasenta secara hati-hati dan halus (melepaskan plasenta yang melekat erat secara paksa, dapat menyebabkan perdarahan atau perfarasi).
- Restorasi cairan untuk mengatasi hipovolumina
- Lakukan tranfusi darah apabila diperlukan
- Beri antibiotika profilaksis (ampisilin 2 g IV/oral + metronidozol 1 g sapositona/oral)
- Segera atasi bila terjadi komplikasi perdarahan hebat, infeksi, syok neurogenik.
Sisa Plasenta ( sarwono prawirohardjo: 2005 )
- Penemua secara dini, hanya dimungkinkan dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan plasenta setelah dilahirkan. Pada kasus sisa plasenta dengan perdarahan pasca-persalinan lanjut, sebagian besar pasien-pasien akan kembali ketempat bersalin dengan keluhan perdarahan setelah 6-10 hari pulang kerumah dan sub involusi uterus.
- Berikan antibiotika karena perdarahan juga merupakan gejala matritis. Antibiotika yang dipilih adalah ampisilin dosis awal 1 g IV dilanjutkan dengan 3 x 500 mg oral.
- dengan dipayungi antibiotikaa tersebut, lakukan eksplorasi digital (bila serviks terbuka) dan mengeluarkan bekuan darah atau jaringan. Bila serviks hanya dapat dilalui oleh instrumen, lakukan evakuasi sisa plasenta denga AVM atau dilatasi dan kuretase.
- Bila kadar Hb < 8 gr% berikan tranfusi darah, bila kadar Hb ³ 8 gr%, berikan sulfas ferosus 600 mg/hari selama 10 hari.
Ruptura Perineum dan Robekan Dinding Vagina ( sarwono
prawirohadjo;2005 )
- Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi lokasi laserasi dan sumber perdarahan
- Lakukan irigasi pada tempat luka dan bubuhi larutan antiseptik
- Jepit dengan ujung klem sumber perdarahan kemudian ikat dengan benang yang dapat diserap.
- Lakukan penjahitan luka mulai dari bagian yang paling distal terhadap operator.
- Khusus pada ruptura perineum komplit (hingga anus dan sebagian rektum) dilakukan penjahitan lapis dini dengan bantuan busi pada rektum, sbb :
- Setelah prosedur aseptik-antiseptik, pasang busi rektum hingga ujung robekan
- Mulai penjahitan dari ujung robekan dengan penjahitan dan simpul submukosa, menggunakan benang poliglikonik no. 2/0 (dexon/vicryl) hingga sfongter oni jepit kedua sfingter oni dengan klem dan jahit dengan benar no. 2/0
- Lanjutkan penjahitan kelapisan otot perineum dan submukosa dan subkutikuler
- Mukosa vagina dan kuul perineum dijahit secara submukosal dan subkutikuler.
- Berikan antibiotika profilaksis (ampisilin 2 g dan metronidozal 1 g per oral) terapi penuh antibiotika hanya diberikan apabila luka tampak kotor atau dibubuhi ramuan tradisional atau terdapat tanda-tanda infeksi yang jelas.
Robekan Serviks ( sarwono prawirohardjo:2005 )
- Robekan serviks sering terjadi pada sisi lateral karena serviks yang terjulur, akan mengalami robekan pada posisi spina isciadika tertekan oleh kepala bayi.
- Bila kontraksi uterus baik, plasenta lahir lengkap, tetapi terjadi perdarahan banyak maka segera lihat bagian lateral bawah kiri dan kanan dari persia.
- Jepitkan klem ovum pada kedua sisi porsio yang robek sehingga perdarahan dapat segera dihentikan. Jika setelah eksplorasi lanjutan tidak dijumpai robekan lain, lakukan penjahitan. Jahitan dimulai dari ujung atas robekan kemudian kearah luar sehingga semua robekan dapat dijahit.
- Setelah tindakan, periksa tanda vital pasien, kontraksi uterus, tinggi fundus uteri, dan perdarahan pascaa-tindakan.
- Beri antibiotika profilaksis, kecuali bila jelas ditemui tanda-tanda infeksi
- Bila terjadi defisit cairan, lakukan retorasi dan bila kadar Hb dibawah 8 gr%, berikan tranfusi darah.
ASUHAN KEBIDANAN PADA PERSALINAN DENGAN ATONIA UTERI
TERHADAP Ny. A DI RB KASIH BUNDA PUNGGUR
LAMPUNG TENGAH
TAHUN 2007
I.
Pengumpulan
Data Tanggal 27 Juli 2007 Pukul. 18.00 WIB.
A.
Data
Subyektif
a.
Identitas
Nama Ibu : Ny.
ARI
Nama Suami : Tn. BENI
Umur
: 33
tahun
Umur
: 35 tahun
Agama
:
Islam
Agama :
Islam
Suku
:
Jawa
Suku
: Jawa
Pendidikan :
SMA
Pendidikan : SMA
|
Pekerjaan :
IRT
Pekerjaan : IRT
|
|
|
|
Alamat
: Jl. Raya Totokaton
Alamat :
b. Keluhan
Utama
Ibu hamil anak keenam, usia kehamilan 9 bulan,
mengeluh perutnya terasa mulas dan nyeri punggung menjalar ke perut bagian
bawah sejak pukul 12.00 WIB, serta mengeluarkan lendir bercampur darah.
c.
Keluhan
sejak kunjungan terakhir
Ibu berkunjung 1 minggu yang lalu, ibu mengalami
pegal-pegal dipinggang tetapi belum merasakan nyeri perut bagian bawah, selain
ibu mengeluh sering kencing.
d. Tanda-tanda
Persalinan
Ibu datang tanggal 27 Juli 2007 pukul 18.00 WIB. His
ada 2 x/menit lamanya 20-40 detik. Ibu mengatakan nyeri punggung menjalar ke
perut bagian bawah. Pengeluaran pervaginam berupa cairan lendir bercampur
darah.
e.
Masalah
Khusus
Ibu tidak mempunyai masalah atau kelainan yang
beresiko atau mempengaruhi terhadap persalinan.
f.
Riwayat
kehamilan Sekarang
a.
Riwayat Haid
Menarche
: 14 tahun
Lama
haid
: 6-7 hari dengan siklus teratur
Banyaknya darah : 3 x ganti softex
Sifat
darah
:
encer, tidak menggumpal
Nyeri
darah : tidak
ada
HPHT
: 17-20-2006
TP
: 24-07-2007
G.P.A
: G2P5A0
b. Riwayat
Persalinan yang lalu
|
No
|
Umur
|
Jk
|
Persalinan
|
BB/TB
|
Penolong
|
Penyulit
|
Keadaan
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
10 th
8 th
6 th
4 th
2 h
|
L
P
P
L
P
|
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
|
2900/45
3000/45
3100/43
2800/43
3000/45
|
Bidan
Bidan
Bidan
Bidan
Bidan
|
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
|
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
|
c.
Pemeriksaan
Kehamilan
Trimester
I : ANC
sebanyak 1 x di RB, tidak ada keluhan
Trimester
II : ANC sebanyak 3
x di RB, mendapat imunisasi
TT1 dan TT2 dengan keluhan kepala pusing.
Trimester
III : ANC sebanyak 2 x di
RB, keluhan sering BAK dan nyeri pinggang.
d. Riwayat
Imunisasi
Ibu sudah mendapat imunisasi lengkap TT1
pada usia kehamilan 5 bulan dan usia kehamilan 6 bulan di bidan.
e.
Pergerakan
Janin dalam 24 jam
Ibu mengatakan sebelum mulas merasakan gerakan janin
sering dan kuat. Pada saat his timbul gerakan janin sedikit berkurang.
f.
Riwayat
kesehatan ibu dan keluarga
1. Riwayat
kesehatan ibu
a.
Merokok
: Tidak pernah
b.
Alkohol
: Tidak pernah
c. Konsumsi obat
terlarang : Tidak pernah
d. Penyakit
menular
: Tidak ada
e. Penyakit
Keturunan
: Tidak ada
2. Riwayat kesehatan lainnya
Di dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit
menular dan keturunan bila ada anggota keluarga yang sakit langsung berobat ke
puskesmas.
g. Pola hidup
sehari-hari
a.
Nutrisi
Ibu makan 3 kali sehari dengan porsi 1 kali makan, I
piring nasi, I mangkok sayur, 2 potong tempe/tahu, ikan, kadang-kadang buah
sesuai musim, minum 7 – 8 gelas sehari.
b. Eliminasi
BAB : Ibu mengatakan BAB I x sehari
BAK
: Ibu mengatakan BAK 6 – 7 x sehari
c.
Istirahat
dan Tidur
Ibu mengatakan bisa tidur 8 jam sehari dan istirahat
siang 1 – 2 jam sehari.
d. Personal
Hyigene
Ibu mandi 2 kali sehari, ganti pakaian 2 kali sehari.
e.
Aktivitasnya
Ibu merasa lemah, sehingga untuk melakukan aktifitas
sehari-hari masih perlu dibantu.
h. Riwayat
Psikososial
Ibu mengharapkan anak yang dilahirkan dalam keadaan
sehat. Ibu sedikit cemas.
B.
Data
Objektif
A.
Pemeriksaan
umum
1. Keadaan umum :
baik
2.
Kesadaran
: composmentis
3. Tanda-tanda vital
TD
: 110/70 mmHg
Pols
: 83x/menit
RR
: 20x/menit
Suhu
: 36°C
4. Tinggi
badan : 162 cm
5. Berat
badan :
sebelum hamil : 45 kg
setelah hamil : 55 kg
6. Ukuran
LILA : 21,5 cm
B. Pemeriksaan fisik
Inspeksi
1.
Rambut
: Bersih, tidak ada ketombe dan tidak udah dicabut
2.
Wajah
: Simetris, tidak ada oedema, tidak ada gangguan gravidasum
3.
Mata
: Bentuk simetris, tidak ada pembengkakan pada kelopak mata, konjungtiva merah
muda, sclera tidak ikterik, fungsi penglihatan baik, reflek pupil baik.
4.
Hidung
: Bentuk simetris, keadaan bersih, tidak ada polip,fungsi penciuman baik.
5. Gigi dan mulut : Tidak ada
kelainan pada mulut, tidak terdapat stomatitis pada rongga mulut, keadaan gigi
bersih, tidak ada caries dan lubang pada gigi, lidah bersih dan jumlah gigi
lengkap.
6.
Telinga
: Simetris kanan dan kiri, keadaan bersih, tidak ada serumen, fungsi
pendengaran baik.
7.
Leher
: Tidak ada pembesaran kelenjar limphe, kelenjar thyroid, dan vena
jugularis.
8.
Dada
: Bentuk simetris, pergerakan nafas tidak teratur, tidak ada benjolan
abnormal.
9.
Payudara
: Payudara simetris kanan dan kiri, putting susu menonjol, areola mamae
hiperpigmentasi, kolostrum keluar hanya sedikit.
10.
Abdomen
: Tidak ada bekas operasi, tidak ada sine gravidarum, pembesaran sesuai
usia kehamilan.
11. Ekstrimitas atas : Lengkap kiri dan kanan,
fungsi pergerakan baik, tidak ada oedema, keadaan bersih.
12. Ekstrimitas bawah : Tungkai tidak ada oedema, fungsi pergerakan baik,
tidak ada cacat, tidak ada varises, lengkap kanan kiri, reflek patera baik.
13.
Genitalia
: Tidak ada oedema dan varises pada vulva dan vagina, perineum
elastis,tidak ada pengeluaran lendir saat kontraksi, ada bekas luka perenium
dari persalinan yang lama.
14.
Punggung
: Tulang belakang sedikit lordosis.
15.
Rcctum
: Tidak ada hemoroid.
Palpasi
Mc.
Donald
: 30 cm
TBJ
: (30 – 11 ) 155
: 18 x 155 = 2945 gr
Leapold
I
: TFU 3 jari bawah px, pada fundus teraba bagian bulat, lunak, tidak melenting
yang berarti bokong.
Leapold II
: Perut sebelah kanan ibu teraba paparan panjang dan luas yang berarti
punggung. Pada perut sebelah kiri ibu teraba bagian kecil janin yang berarti
ekstrimitas.
Leapold
III
: Bagian terendah janin teraba bagian bulat, keras yang berarti kepala.
Leapold
IV
: Bagian terendah janin sudah masuk PAP.
His
: ada 2 x/menit lamanya 20 – 40 menit.
Auskultasi
Dada
: Pada auskultasi paru-paru tidak terdengar ronchi dan wheezing.
DJJ
: Terdengar teratur dan kuat dengan frekuensi 130 x/menit. Punctum maksimum
dibawah pusat sebelah kanan 4°C.
Perkusi
Reflek patella positif (+), reflek babinski negative (-)
C.
Pemeriksaan
Laboratorium
Hb
: 8 gr %
Urine
: Protein (-)
Reduksi (-)
D.
Pemeriksaan
Dalam
a.
Vulva/vagina : Slym
ada
b. Dinding vagina
: Teraba rugae, tidak ada benjolan
c.
Pramantasium : Tidak
teraba
d.
Partia
: Tipis, pembukaan 3 cm
e.
Katuban
: (+)
f.
Presentasi
: Kepala
g.
Penurunan
: Hodge I, 4/5
h.
His
: ada
2x tiap 10 menit
i.
Lama
: 20 detik
Kekuatan < 20 – 40 detik
II.
Analisa Data
1.
Diagnosa
G3P5A0 hamil 30
minggu, janin tunggal, hidup, intrauterin, letak memanjang, posisi punggung
kanan, presentasi kepala, inpartu kala I, fase laten
Dasar:
1. Ibu
mengatakan hamil anak keenam, usia kehamilan 9 bulan.
2. HPHT : 17 –
10 – 2006
3. TP
: 24 – 7 – 2007
4. Ibu
mengatakan perutnya mulas, nyeri pada pinggang menjalar ke perut bagian bawah.
5. Leopold
I
: TFU 3 jari bawah px, pada fundus teraba bagian bulat, lunak, tidak melenting
yang berarti bokong.
6. Leopold
II
: Perut sebelah kanan ibu teraba paparan panjang dan luas yang berarti
punggung. Pada perut sebelah kiri ibu teraba bagian kecil janin yang berarti
ekstrimitas.
7. Leopold
III
: Bagian terendah janin teraba bagian bulat, keras yang berarti kepala.
8. Leopold
IV
: Bagian terendah janin sudah masuk PAP.
9. Terdapat 2 bagian besar
dan beberapa bagian kecil, punctum maksimal ditemukan dibawah pusat sebelah
kanan 45° . Djj positif (+), frekuensi 130x/menit, kuat dan
teratur.
10. His ada 2x/10 menit lamanya 20 –
40 menit
11. Pengeluaran pervaginam lendir
bercampur darah.
12. Pada pemeriksaan dalam
didapatkan:
Parsia lunak dan tipis, pembukaan 3 cm, ketuban (+),penurunan kepala hadge I.
2.
Masalah
1. Nyeri yang
hilang timbul
Dasar:
DS
: Ibu mengatakan perutnya mulas dan nyeri perut bagian bawah menjalar ke
pinggang sejak pukul 12.00 WIB.
DO
: Ibu inpartu kala I, kontraksi uterus 2x/ 10 menit, lamanya 20 – 40
menit
2. Cemas
Dasar:
DS
: Ibu mengatakan takut dan cemas menghadapi persalinan.
DO
: 1. Ibu tampak gelisah dan seperti ingin menangis bila nyeri
timbul.
2. Ibu dalam inpartu kala I.
3. His kuat dan teratur
DS : His timbul
2x/10 menit
DO : Ibu mangatakan
perutnya sakit.
3.
Kebutuhan
a.
Persiapan
fisik dan mental mengalami proses persalinan.
b. Pengalihan
rasa nyeri.
c.
Informasi
tentang kemajuan persalinan.
d. Nutrisi
untuk proses persalinan.
e.
Penyuluhan
cara mengedan/meneran aktif.
IV. Perencanaan
a.
Jelaskan
pada ibu tentang kondisi saat ini.
Keadaan ibu baik, ibu tampak gelisah dan cemas
menghadapi persalinan.
b. Observasi
kala I dengan partograf
Kala satu persalinan dimulai sejak terjadinya
kontraksi uterus yang teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya) hingga
serviks membuka lengkap (10 cm). Kala satu persalinan terdiri
atas dua fase, yaitu fase laten dan fase aktif. Fase laten berlangsung hingga
serviks membuka kurang dari 4 cm. Fase aktif dari pembukaan 4 cm hingga
pembukaan lengkap atau 10 cm.
c.
Anjurkan ibu
untuk miring.
Anjurkan ibu untuk mencoba posisi yang nyaman selama
persalinan dan melahirkan bayi serta anjurkan suami dan pendamping lainnya
untuk membantu ibu berganti posisi. Ibu boleh berjalan, berdiri, duduk,
jongkok, berbaring miring atau merangkak. Posisi tegak seperti berjalan,
berdiri, atau jongkok dapat membantu turunnya kepala bayi dan sering kali
memperpendek waktu persalinan, Bantu ibu untuk sering berganti posisi selama
persalinan.
d. Siapkan
ruang bersalin, alat, kebutuhan fisik, dan psikologis ibu serta persiapan
bidan/penolong.
1. Pastikan
kelengkapan jenis dan jumlah bahan-bahan yang diperlukan serta dalam keadaan
siap pakai pada setiap persalinan dan kelahiran bayi. Siapkan ruang bersalin
yang hangat dan bersih, memiliki sirkulasi udara yang baik dan terlindung dari
tiupan angin.
2. Periksa
semua peralatan sebelum dan setelah memberikan asuhan. Segera ganti peralatan
yang hilang atau rusak.
3. Anjurkan ibu
untuk mendapat asupan (makanan ringan dan minum air) selama persalinan dan
proses kelaihran bayi.
4. Riwayat
psikologis : Ibu mengatakan saat ini bahagia dengan kelahiran bayinya, karena
sudah lama menantikannya dan jenis kelamin bayi sesuai dengan keinginannya.
e.
Anjurkan
teknik relaksasi
Anjurkan ibu untuk duduk santai, menarik nafas,
berendam, mendengarkan musik.
f.
Ajarkan ibu
cara mengedan yang efektif.
1. Anjurkan ibu
untuk meneran mengikuti dorongan alamiahnya selama kontraksi.
2. Beritahukan
untuk tidak menahan nafas saat meneran.
3. Minta untuk
berhenti meneran dan beristirahat diantara kontraksi.
4. Jika ibu
berbaring miring atau setengah duduk, ia akan lebih mudah untuk meneran jika
lutut ditarik kearah dada dan dagu ditempelkan ke dada.
5. Minta ibu
untuk tidak mengangkat bokong saat meneran.
6. Tidak
diperbolehkan untuk mendorong fundus untuk membantu kelahiran bayi.
g. Beri ibu
dukungan psikologis
Bahwa ibu bisa melewati persalinan ini dengan lancar.
Berikan support dan dampingi ibu dalam persalinan.
h. Siapkan
oksigen
Persiapkan oksigen untuk mencegah terjadinya asfeksia
pada bayi baru lahir.
i.
Pemberian
cairan infus RL dengan 20 tetes/menit.
Pasang infus menggunakan jarum diameter besar (ukuran
16 atau 18) dan berikan RL atau NC. Infus 1 L dalam 15 sampai 20 menit. Jika
mungkin infuskan 2 L dalam waktu satu jam pertama, kemudian turunkan ke 125
cc/jam.
j.
Pemberian
obat ampicilin 1 mg atau menurut advis dokter
Berikan ampicilin 2 gr atau amoksilin 2 gr per oral.
Pengawasan Kala I
Tgl
|
Wkt
|
Pemb.. Serviks
|
Kondisi Ibu
|
Kondisi Janin
|
||||||||
|
TD
|
Pols
|
RR
|
Temp
|
Obat/cr yg diberikan
|
Kontraksi uterus/His
|
Djj
|
Penurunan kepala
|
Ketuban/
penyusupan
|
||||
|
27/7/07
|
18.00
|
3 cm
|
110/70
|
83
|
20
|
36°C
|
-
|
His: 2 x
setiap 10 menit.
Lama : 20
detik
|
134 x/mnit
(+)
|
4/5
|
(+)/0
|
|
|
18.30
|
110/70
|
83
|
20
|
36°C
|
-
|
His: 2 x
setiap 10 menit.
Lama : 20
detik
|
135 x/mnit
(+)
|
-
|
-
|
|||
|
19.00
|
120/70
|
80
|
20
|
36°C
|
-
|
His: 3 x
setiap 10 menit.
Lama : 20
detik
|
134 x/mnit
(+)
|
-
|
-
|
|||
|
19.30
|
110/70
|
88
|
24
|
36°C
|
150 cc
|
His: 3 x
setiap 10 menit.
Lama : 30
detik
|
134 x/mnit
(+)
|
-
|
-
|
|||
|
20.00
|
110/70
|
90
|
25
|
36,3°C
|
-
|
His: 3 x
setiap 10 menit.
Lama : 45
detik
|
135 x/mnit
(+)
|
-
|
-
|
|||
|
20.30
|
110/70
|
92
|
25
|
36,5°C
|
-
|
His: 3 x
setiap 10 menit.
Lama : 45
detik
|
134 x/mnit
(+)
|
-
|
-
|
|||
|
21.00
|
120/70
|
92
|
27
|
36,8°C
|
-
|
His: 3 x
setiap 10 menit.
Lama : 45
detik
|
135 x/mnit
(+)
|
-
|
-
|
|||
|
21.30
|
120/70
|
92
|
27
|
36,8°C
|
80 cc
|
His: 4 x
setiap 10 menit.
Lama : 45
detik
|
134 x/mnit
(+)
|
-
|
-
|
|||
|
22.00
|
6 cm
|
110/70
|
90
|
25
|
36,8°C
|
-
|
His: 4 x
setiap 10 menit.
Lama : 40
detik
|
134 x/mnit
(+)
|
4/5
|
(+)/0
|
||
Kala II tanggal 27 Juni 2007 pukul 02.00 WIB.
S : 1. Ibu mengatakan ingin
mengedan dan merasa seperti BAB.
2.
Ibu mengatakan rasa sakit semakin berkurang.
O : 1. Keadaan umum : baik
2.
Tanda-tanda vital:
TD :
110/50 mmHg
RR :
22x /menit
Pols : 82x /menit
Temp : 36°C
3. His ada dengan frekuensi 4x/10 menit lamanya 40
detik
4.
Djj
:frekuensi 138x/menit kuat dan teratur.
5. Pada pemeriksaan dalam didapatkan
a.
Vulva dan
anus membuka dan perineum menonjol
b. Portio tidak
teraba.
c.
Pembukaan 10
cm
d. Ketuban (+)
e.
Presentasi :
kepala
f.
Penurunan
kepala di hodge IV
A. 1. Diagnosa
G6P5A0 hamil 30
minggu, janin tunggal, hidup, intrauterine, letak memanjang, posisi pinggang
kanan, presentasi kepala, inpartu kala I, fase aktif.
Dasar:
1. Ibu
mengatakan ingin mengedan dan merasa ingin BAB
2. His ada
dengan frekuensi 3x /10 menit lamanya 40 detik
3. Pemeriksaan
dalam didapatkan pembukaann 10 cm, ketuban sudah pecah, penurunan kepala di
hodge IV.
2.
Masalah
Ibu cemas menghadapi persalinan.
Dasar :
1. Ibu
mengatakan cemas dan gelisah dalam menghadapi persalinan meskipun ini sudah
merupakan persalinan keenam bagi ibu.
2. Ibu memasuki
kala II persalinan dengan His yang sudah mulai dirasakan ibu.
3.
Kebutuhan
1. Pemantauan
kesejahteraan ibu dan janin
2. Pemenuhan
nutrisi dan cairan tubuh.
3. Atur posisi
yang nyaman, cara dan kapan ibu harus mengejan.
4. Berikan
rangsangan taktil pada putting susu agar memperkuat kontraksi. Jika belum
berhasil berilah injeksi okatosin 1M.
5. Menolong
persalinan dan pemberian asuhan.
P :
1. Pantau keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu.
2. Observasi Djj.
3. Atur posisi ibu.
4. Berikan rangsangan
taktil pada payudara dan injeksi eksitosin bila kontraksi belum membaik.
5 Bimbingan ibu untuk meneran saat ada his dan diselingi
nafas panjang, meneran seperti ingin BAB.
6. Pastikan kandung kemih ibu tetap kosong.
7. Anjurkan ibu untuk makan dan minum disaat tidak ada his.
8. Lahirkan bayi dengan menolong kelahiran kepala, memeriksa
lilitan tali pusat pada leher bayi, melahirkan bahu dan anggota badan
seluruhnya.
9. Bayi lahir spontan pervaginam pukul 02.50 dengan jenis kelamin
laki-laki, BB: 3200gr, PB: 44 cm, anus ada, tidak ada cacat/kelainan, apgar:
7/10.
10. Setelah bayi lahir segera keringkan bayi, potong dan ikat tali pusat,
bungkus bayi dengan kain kering dan bersih.
11. Periksa abdomen ibu untuk memastikan tidak ada janin berikutnya.
Kala III Tanggal 27 Juli 2007 Pukul 02.50 WIB
S :
1. Ibu mengatakan merasa lega dan senang atas kelahiran bayinya.
2. Ibu mengatakan masih merasa mulas pada perutnya.
3. Ibu mengeluh badan terasa lemas.
O
: 1. Bayi lahir spontan pervaginam pukul 02.50,
jenis kelamin laki-laki, BB=3200 gr, PB= 49 cm, anus ada, tidak ada
cacat/kelainan, apgar : 7/10
2. Tanda-tanda vital:
TD : 110/70 mmHg
RR : 20x /menit
Pols : 90x /menit
Temp : 36,5°C
3. Plasenta belum lahir.
4. Terdapat tanda-tanda
plasenta.
a.
Bentuk
uterus berubah jadi bulat/globuler
b. Uterus naik
c.
Tali pusat
memanjang
d. Ada
pengeluaran darah, baik semburan/mengalir
e.
Perdarahan
150 cc.
f.
Pada
inspeksi tidak terdapat robekan jalan lahir.
g. Keadaan
kandung kemih kosong.
A : 1.
Diagnosa
P5A0 partus spontan pervaginam kala III
Dasar:
a.
Bayi lahir
pukul 22.00 WIB
b. Plasenta
belum lahir.
c.
Pada palpasi
: kontraksi uterus baik, TFU I jari diatas pusat.
d. Terdapat
tanda-tanda pelepasan plasenta.
2. Masalah
Mules pada perut bagian bawah.
Dasar: Mules pada perut bagian bawah karena plasenta
belum lahir.
3. Kebutuhan
a.
Management
aktif kala III
b. Lahirkan
plasenta
c.
Pemenuhan
kebutuhan cairan.
P : 1.
Periksa abdomen ibu untuk memastikan tidak ada janin berikutnya.
2. Lakukan management aktif Kala III
a. Berikan oksitosan 10 Iu secara IM
b. Lakukan peregangan tali pusat terkendali
c. Letakkan tangan diatas simfisis, dan lakukan peregangan tali
pusat saat ada his dan posisi tangan dorso kranial
3. Lakukan pengeluaran plasenta, periksa plasenta, koteledon dan selaput
ketuban.
1. Koteledon dan selaput utuh.
2. Panjang tali pusat : 45 cm
3. Lebar Plasenta : 14 cm
4. Berat plasenta : 1500 gr
4. Observasi kontraksi uteras dan perdarahan kala III.
5. Lakukan masase fundus setelah plasenta lahir selama 15 detik.
6. Lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital dan keadaan umum ibu.
7. Periksa apakah ada robekan jalan lahir dan perdarahan atau
tidak.
Setelah dilakukan pemeriksaan tidak terdapat robekan jalan lahir dan ternyata
ada perdarahan.
Kala IV Tanggal 22 Juli 2007 Pukul 03.00 WIB
S :
1. Ibu mengatakan senang dan bahagia atas kelahiran anaknya
2. Ibu mengatakan darah banyak keluar atas kelahiran anaknya.
3. Ibu mengeluh badan terasa lemas.
O
: 1. Keadaan umum ibu : Lemah
2. Kesadaran
: composmentis
3. Tanda-tanda vital:
TD : 110/70 mmHg
RR : 24x /menit
Pols : 90x /menit
Temp : 37,2°C
4. Plasenta lahir spontan dan
lengkap pukul 03.00 WIB.
5. Melakukan pemeriksaan
jalan lahir, tidak terdapat robekan tetapi adanya perdarahan, uterus teraba
lembek, setelah 15 detik plasenta lahir tidak berkontraksi.
6. Perdarahan 400 cc
7. Keadaan kandung kemih
kosong
8. Tidak terdapat luka jalan
lahir.
A : 1.
Diagnosa
P5A0 partus spontan pervaginam kala IV dengan atonia
uteri.
Dasar:
a.
Bayi lahir
spontan pervaginam pukul 02.50 WIB.
b. Plasenta
lahir lengkap pukul 03.00 WIB.
c.
Uterus
terasa lembek, kontraksi uterus tidak baik.
d. Perdarahan
400 cc.
2. Masalah
1. Gangguan rasa nyaman
Dasar: 1. Gangguan rasa nyaman sehubungan dengan nyeri pada perut bagian
bawah.
2. Banyaknya darah yang keluar dari kemaluan ibu.
2. Keterbatasan aktivitas
Dasar: DS : Badannya terasa lemas
DO : Ibu
tampak lemah
3. Perdarahan kala empat
Dasar: 1. Ibu mengeluh badannya
terasa lemah.
2. Ibu mengatakan darah banyak keluar dari
kemaluannya.
3. Ada pengeluaran darah yang
terus mengalir dari uterus.
4. Uterus teraba lembek,
kontraksi uterus tidak baik.
5. Perdarahan 400 cc
3. Kebutuhan
a. Penghentian perdarahan
dengan kompresi bimanual internal (KBI), kalau tidak timbul kontraksi, lakukan
kompresi bimanual eksternal (KBE).
b. Penggantian cairan tubuh
yang hilang.
c. Pemenuhan nutrisi dan
cairan tubuh.
d.
Pemantauan kala IV.
P : 1.
Lakukan masase fundus setelah plasenta lahir (maksimal 15 detik)
2. Hentikan perdarahan dengan kompresi bimanual internl (KBI) selama 3
menit.
a. Pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril, dengan
lembut masukkan tangan (dengan cara menyatukan kelima ujung jari) ke introitus
dan ke dalam vagina ibu.
b. Periksa vagina dan serviks, jika ada selaput atau bekuan darah pada
kavum uteri mungkin uterus tidak dapat berkontraksi secara penuh.
c. Letakkan kepalan tangan pada forniks anterior, tekan dinding
anterior uterus, sementara telapak tangan lain pada abdomen, menekan dengan
kuat dinding belakang uterus kearah kepalan tangan dalam.
d. Tekan uterus dengan kedua tangan secara kuat. Kompresi uterus
ini memberikan tekanan langsung pada pembuluh darah di dalam dinding uterus dan
juga merangsang miometrium untuk berkontraksi.
e. Evaluasi keberhasilan.
1. Jika uterus berkontraksi dan perdarahan berkurang, teruskan melakukan KBI
selama dua menit, kemudian perlahan-lahan keluarkan tangan dari dalam vagina,
pantau kondisi ibu secara merekat selama kala empat.
2. Jika uterus berkontraksi tapi perdarahan terus berlangsung. Periksa
perineum, vagina dan serviks apakah terjadi laserasi di bagian tersebut. Segera
lakukan penjahitan jika ditemukan laserasi.
3. Jika kontraksi uterus tidak terjadi dalm waktu 5 menit, ajarkan
keluarga untuk melakukan kompresi bimanual eksternal kemudian teruskan dengan
langkah-langkah penatalaksanaan atomia uteri selanjutnya.
Minta tolong keluarga untuk mulai menyiapkan rujukan.
Alasan: atoma uteri seringkali bisa diatasi dengan
KBI. Jika KBI tidak berhasil dalam waktu 5 menit diperlukan
tindakan-tindakan ini.
3. Apabila uterus berkontraksi teruskan KBI selama 3 menit. Dan bila
uterus tidak berkontraksi anjurkan keluarga untuk mulai melakukan Kompresi
Bimanual Eksternal (KBE).
a. Letakkan satu tangan pada abdomen di depan uterus, tepat diatas simfisis
pubis.
b. Letakkan tangan yang lain pada dinding abdomen (dibelakang
korpus arteri).
c. Letakkan gerakan saling merapatkan kedua tangan untuk melakukan
kompresi pembuluh darah di dinding uterus dengan cara menekan uterus diantara
kedua tangan tersebut, ini akan membantu uterus berkontraksi dan menekan pembuluh
darah uterus.
4. Berikan injeksi metal ergometrin 0,2 mg secara IM
5. Pasang infus RL 500 + 20 unit oksitosin secepat mungkin dan
guyur.
6. Berikan ibu makan dan minum untuk mengganti energi yang telah
dikeluarkan saat persalinan.
7. Awasi jumlah perdarahan kala IV.
8. Awasi keadaan umum ibu dan tanda-tanda vital ibu.
DAFTAR PUSTAKA
1. Human Labor and Birth. 1996. Ilmu Kebidanan
Patologi dan Fisiologi Persalinan. Jakarta. Yayasan Essentia Medica.
2. Ida Bagus Gde Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan.
Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan. Jakarta. EGC
3. Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. 1998. Sinopsis
Obstetri. Jakarta. EGC
4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1999. Modul
5. Pencegahan dan Penanganan Post Partum. Jakarta.
